June 18, 2018

Jangan Khawatir Bergaul Dengan Penderita HIVAIDS

Saat ini masih banyak yang menganggap penyakit HIV/AIDS sebagai penyakit kotor dan sangat mudah menular. Sehingga, orang akan takut berdekatan dengan penderitanya. Padahal, jika mengetahui cara penularan HIV maka seseorang masih bisa berteman dengan penderita.

 

Dokter Umum Rumah Sakit Islam Yarsis Surakarta, Dr Ika Fi’ila Sari mengatakan, HIV hanya dapat hidup di dalam tubuh manusia yang hidup dan hanya bertahan beberapa jam saja di luar tubuh. HIV tidak dapat menular melalui air ludah, air mata, muntahan, kotoran manusia dan air kencing. “HIV juga tidak ditemukan di keringat,” jelasnya.

 

Dia juga menjelaskan, HIV tidak dapat menembus kulit yang utuh dan tidak menyebar melalui sentuhan dengan orang yang terinfeksi HIV, atau sesuatu yang dipakai oleh orang terinfeksi HIV. Jadi saling penggunaan perabot makan atau minum, atau penggunaan toilet atau air mandi bergantian tidak akan menularkan HIV ini. “Penggunaan toilet umum yang bekas digunakan oleh penderita HIV tidak akan tertular,” ujarnya.

 

HIV juga tidak menular melalui gigitan nyamuk atau serangga pengisap darah yang lain. Kebanyakan serangga tidak membawa darah dari satu orang ke orang lain ketika mereka menggigit manusia. Parasit malaria memasuki aliran darah dalam air ludah nyamuk, bukan darahnya. “Jadi kalau ada yang menganggap gigitan nyamuk bisa menularkan HIV itu anggapan yang salah besar,” jelasnya. Perawatan seseorang dengan HIV tidak membawa risiko apabila tindakan pencegahan diikuti seperti membuang jarum suntik secara aman dan menutupi luka.

 

Dia menjelaskan, pada saat dilakukan tes HIV hasilnya akan ditemukan antibodi terhadap HIV dalam darah. Antibodi itu dibuat oleh sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi oleh virus tersebut. Apabila tidak ada antibodi, seseorang disebut sebagai antibodi negatif (seronegatif atau HIV-negatif). Hasil tes dapat negatif apabila seseorang baru saja terinfeksi, karena setelah terinfeksi pembentukan antibodi makan waktu sampai tiga bulan. “Masa antara infeksi dan terbentuknya cukup banyak antibodi untuk menunjukkan hasil tes positif disebut ‘masa jendela’,” terang dia.

Bila hasil tes HIV adalah negatif, tetapi yang bersangkutan sudah berperilaku berisiko terinfeksi HIV dalam tiga bulan sebelum dites, dia mungkin masih dalam masa jendela, dan hasil tes mungkin tidak benar. Oleh karena itu, dalam keadaan ini, orang tersebut harus dites ulang, paling cepat tiga bulan setelah peristiwa berisiko terakhir.

Rate this item
(0 votes)

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Copyright © PN-Baturaja 2017 All Rights Reserved. Designed By PN-Baturaja